Baiklah… (sigh)
Lima belas bulan lalu saya putuskan untuk menikah saja. Tidak baik menunda-nunda. Begitu kata saya dalam hati. Mumpung ada yang mau. Begitu kata kawan lama. Usia sudah cukup renta. Dana, meski pas-pasan, tersedia.
singkap lebih lebar…
Halaman ini untuk sementara tidak akan di-update. Tidak akan ada postingan baru. Mungkin sampai kapan, entah nanti.
Saya sedang sombong dengan hobi barunya yang lain.
Dilarang protes…
Hormat saya,
AE
pada masanya nanti
usai mengajar para kanak berhitung
dan mengaji
diam-diam kita akan menangis
melihat mereka terlahir
tumbuh
dan bahagia
“Kenapa pilih aku, Pak Andi?” kamu bertanya di atas loteng persembunyian seusai mengusir tuan kecoak yang sedang merayap di kain kerudungmu. Dan sebenarnya bukan beliau saja yang menguping pembicaraan alot kita. Para tetangga pun menempelkan telinga di dinding rumah dan di balik kaca nako. Dasar tidak ada kerjaan. Padahal seharusnya mereka shalat taraweh berjamah di masjid sebelah.
singkap lebih lebar…
Pada awalnya, tidak ada rencana untuk melakukan perjalanan menuju Kampung Pacet, Bandung Coret. Sementara di mana itu letaknya Pacet, hanya segelintir orang yang tahu. Dan saya, a.k.a Andi Eriawan, termasuk dari si segelintir tersebut. Sungguh beruntung. Patut dibanggakan dan layak mendapatkan penghargaan.
intip lebih dalam…
Begini mungkin rasanya berada di tengah-tengah padang savana Texas. Atau gurun-gurun Australia. Panas luar biasa. Musim kemarau turut membawa lanino, katanya.
Dengan kamera pinjaman, saya bersama beberapa teman berkunjung ke Majalaya. Bukan Malaysia. Ma-ja-lay-sya. Desa Cijagra, mungkin lebih tepat. Ini adalah kampung halaman calon istri dari teman saya yang akan dikawininya pada November mendatang. Kami berencana mencari lokasi yang tepat untuk mengabadikan si kedua calon pengantin sebagai poto pre-wedding mereka.
intip lebih dalam…
Perjalanan kali ini adalah menuju Congo, sebuah tempat di pedalaman benua Afrika yang dipenuhi beragam flora dan fauna. Waktunya adalah hari minggu yang cerah seusai mengantar salah satu teman melamar pasangannya untuk diajak hidup bersama selama empat-lima puluh tahun ke depan.
Sama seperti sebelum-sebelumnya, kendaraan yang kami gunakan adalah sebuah mobil dinas berpelat merah. Anggotanya pun tidak jauh beda, yaitu enam lelaki yang sedang giat-giatnya belajar fotografi. Hanya saja, ada satu tambahan lagi, yang di mana dalam hal ini adalah merupakan makhluk yang disebut sebagai: perempuan.
Sekali lagi: perempuan.
intip lebih dalam…

Ceritanya, minggu lalu kami sekeluarga berlibur ke Pantai Carita. Letaknya di 60 km arah barat laut Rangkasbitung. intip lebih dalam…

kepada si cantik
jangan cepat-cepat besar, ya
nikmati saja masa kanak-kanak
bermain sana sepuasnya
naik sepeda
lari-lari
dan berenang
intip lebih dalam…
jika makanan itu pacar
dan makanan enak itu pacar yang menyenangkan
dan makanan mahal itu pacar yang matre
singkap lebih lebar…
dan kepada mei
saya meminta maaf
tak sanggup untuk
penuhi janji
singkap lebih lebar…
menunggu itu
diiringi kesal
gerutu
dan keluhan
menunggu itu
melirik jam tangan
dan berharap hari
cepat selesai
singkap lebih lebar…
First I was dying to finish my high school
and start college
And then I was dying to finish college
and start working
Then I was dying to marry
and have children
And then I was dying for my children to grow old enough
so I could go back to work
But then I was dying to retire
And now I’m dying
And suddenly I realized
I forgot to live
Please don’t let this happen to you
Appreciate your current each situation
and enjoy each day
-An Old Friend-
datanglah pada hari perkawinan kami
lihat si tante menangis haru
paman-paman tertawa kecil
para ponakan berlarian
tatkala menyaksikan
kami berdua dipersatukan
singkap lebih lebar…
“Duh, saya sibuk banget! Ngga sempat makan. Jadinya kena maag…”
“Deadline sialan!”
“Hari kemarin, lembur. Besok lembur lagi!”
“Maaf, saya ngga bisa. Banyak kerjaan di kantor…”
“Ugh, boro-boro nonton. Bisa mandi aja sudah syukur….”
Sedikit sekali orang yang tahu bahwa Ibu Kita Kartini memiliki seorang kakak laki-laki bernama Raden Mas Panji Sosro Kartono. Demi keakraban, mari kita panggil saja dia Paman Kita Kartono.
Yang menjadi pertanyaan adalah, pentingkah untuk tahu dan mengenal si Paman?
singkap lebih lebar…
Sebagai pemerhati perilaku manusia, saya begitu banyak menemukan hal-hal konyol dari mereka. Sebagian terlalu sensitif untuk dibicarakan. Sebagian lagi layak untuk saya tertawakan.
#1 Jodoh
singkap lebih lebar…
SEANDAINYA saja ia masih hidup, pastilah Clyde Tombaugh saat ini tengah uring-uringan dan marah besar. Bagaimana lagi. Pluto, benda luar angkasa yang ia temukan lewat teropongnya di Observatorium Lowell Arizona Utara pada awal abad duapuluh telah ditendang keluar dari daftar planet pengorbit tata surya kita. Dengan alasan yang dibuat-buat, para astronom dunia yang terkumpul dalam International Astronomical Union (IAU) mengumumkan suatu definisi baru tentang pengertian sebuah planet.
singkap lebih lebar…
JANGAN pernah berharap bahwa orang lain mau mengerti atau bersedia menerima kebiasaan-kebiasaan buruk Anda. Asap rokok yang selalu mengepul, pelupa, ingkar janji, gossip addict, serba berantakan, penggerutu, sok tahu dan lelet dalam berbagai hal mana mungkin ditolerensi di zaman ini. Bahkan Anda sendiri tahu benar akan hal itu. Tapi, entah kenapa, tiba-tiba saja telinga Anda menjadi tuli setiap kali orang-orang sekitar protes dengan aura bad habit yang Anda tebarkan. Anda pun selalu merasa bahwa permintaan mereka agar Anda berubah adalah sangat berlebihan. Dan itu memang sangat berlebihan.
People change? Yeah, rite!
singkap lebih lebar…
“Kenapa pilih aku, Pak Andi?” kamu bertanya di atas loteng persembunyian seusai mengusir tuan kecoak yang sedang merayap di kain kerudungmu. Dan sebenarnya bukan beliau saja yang menguping pembicaraan alot kita. Para tetangga pun menempelkan telinga di dinding rumah dan di balik kaca nako. Dasar tidak ada kerjaan. Padahal seharusnya mereka shalat taraweh berjamah di masjid sebelah.
intip lebih dalam…
“Kapan saya diajak bertemu dengan mama?”
Begitu saya bertanya. Dan, ini adalah untuk pertama kalinya dalam seumur hidup saya mengajukan pertanyaan tersebut pada seorang perempuan. Perempuan yang baru saya kenal di pinggir jalan.
Soalnya kalau di tengah jalan suka bikin macet.
intip lebih dalam…
Ada kabar gembira dari puteramu ini, Bunda. Atas berkat doamu, aku telah diterima kerja. Setelah duapuluh lima tahun engkau urusi, tiba waktunya bagi si manja ini memberi sesuatu untukmu dari gaji pertamanya. Tidak. Aku tidak akan memberitahu apa itu. Biarlah ini menjadi sebuah kejutan manis menjelang hari lebaran saat aku pulang nanti.
intip lebih dalam…
Adalah waktu itu tengah malam di bukit Sukawana. Berempat kami membangun sebuah tenda, menghangatkan tubuh di sekeliling api unggun sambil memanggang sosis yang ditusuk ranting cemara. Di belakang kami, bayang gelap Gunung Burangrang dan Tangkuban Perahu. Di hadapan, terhampar kerlip lampu kota Bandung penuh warna dan warni. Ada biru laut. Ada kuning langsat. Ada pink tua. Juga ada hijau botol.
Botolnya botol saos.
intip lebih dalam…
Baiklah… (sigh)
Lima belas bulan lalu saya putuskan untuk menikah saja. Tidak baik menunda-nunda. Begitu kata saya dalam hati. Mumpung ada yang mau. Begitu kata kawan lama. Usia sudah cukup renta. Dana, meski pas-pasan, tersedia.
intip lebih dalam…
Halaman ini untuk sementara tidak akan di-update. Tidak akan ada postingan baru. Mungkin sampai kapan, entah nanti.
Saya sedang sombong dengan hobi barunya yang lain.
Dilarang protes…
Hormat saya,
AE
pada masanya nanti
usai mengajar para kanak berhitung
dan mengaji
diam-diam kita akan menangis
melihat mereka terlahir
tumbuh
dan bahagia
ada masa-masa
di keluarga saya
di mana uang bukan masalah
intip lebih dalam…
Pada seekor burung hantu yang menabrak kaca jendela kantor, tidak akan pernah saya berkata,
”Kata saya juga. Hati-hati. Itu teh kaca.”
Tidak mau saya mengucapkan sesuatu yang menyakiti. Tidak pernah. Pada siapapun. Bahkan padamu, hei burung hantu. Tapi, saya ingin bilang,
”Makanya, kalau terbang itu malam-malam.” intip lebih dalam…